BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penulisan Makalah
Antropologi budaya adalah salah satu mata kuliah yang menarik karena di dalamnya membahas tentang bagaimana kebudayaan manusia itu terbentuk dan berkembang ditilik dari 7 aspek Cultural Universal. Dengan mempelajari budaya ini kita dapat mengetahui pendekatan yang berbeda dalam mengahadapi manusia dengan latar belakang budaya yang berbeda.
1.2 Perumusan Masalah
Bagaimana penerapan unsur – unsur budaya sebagai kebudayaan universal dalam kebudayaan Bali?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Untuk mengetahui dan menganalisis unsur kesenian di kebudayaan Bali dilihat dari 7 aspek sebagai berikut :
1.3.1 Bahasa
1.3.2 Sistem Teknologi dan Alat Produksi
1.3.3 Sistem Mata Pencaharian
1.3.4 Organisasi Sosial
1.3.5 Sistem Pengetahuan
1.3.6 Sistem Religi
1.3.7 Kesenian
BAB 2
KERANGKA TEORITIS
2.1 DEFINISI ANTROPOLOGI
2.1.1 Definisi Etimologis
Antropologi terdiri dari kata “Anthropos” yang berarti manusia dan “logos” yang berarti ilmu. Meskipun demikian, antropologi tidak dapat diartikan secara langsung menjadi ilmu tentang manusia. Hal ini dikarenakan banyak cabang ilmu lain yang menelaah tentang berbagai aspek kegiatan manusia misalnya seperti ilmu sosiologi, psikologi, ekonomi dan berbagai cabang ilmu lain.
2.1.2 Definisi Konseptual
2.1.2.1 Definisi Menurut Haviland
Pada tahun 1985 Haviland mengatakan bahwa antropologi, studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, dan untuk memperoleh keanekaragaman manusia.
2.1.2.2 Definisi Menurut Ariyono Suyono
Di dalam kamus yang Ia susun, Ariyono Suyono mendefinisikan antropologi sebagai suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka bentuk fisik, kepribadian, masyarakat serta kebudayaannya.
2.1.2.3 Definisi Menurut Koentjaraningrat
Ilmu Antropologi sekarang dalam arti seluas – luasnya, mempelajari makhluk Anthropos atau manusia. Banyak ilmu lain yang mempelajari manusia itu. Masing – masing dari sudut pandangnya sendiri – sendiri. Ilmu antropologi memperhatikan lima masalah mengenai makhluk manusia itu. Kelima masalah itu adalah :
a. Masalah sejarah terjadinya perkembangan manusia sebagai makhluk biologis.
b. Sejarah terjadinya aneka warna makhluk manusia, dipandang dari sudut ciri – ciri tubuhnya
c. Masalah persebaran dan terjadinya aneka warna warna bahasa yang diucapkan di seluruh dunia
d. Masalah perkembangan, persebaran, dan terjadinya aneka warna daro kebudayaan manusia di seluruh dunia.
e. Msalah dasar- dasar dan anek warna dari kebudayaan manusia dalam kehidupan masyarakt dan suku – suku bangsa yang tersebar di seluruh bumi sekarang ini
2.1.2.4 Definisi Menurut David Hunter
Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
2.1.2.5 Definisi Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen
Pada tahun 1954 Ralfh dan Harry mendefinisikan antropologi sebagai ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya.
2.1.3 Definisi Operasional
Antropologi adalah ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka bentuk fisik, kepribadian, perilaku, masyarakat serta kebudayaannya untuk memperoleh keanekaragaman manusia.
2.2 Definisi Kebudayaan
2.2.1 Definisi Etimologis
Istilah “Kebudayaan” Dan “Culture”. Kata “kebudayaan” berasal dari kata Sanskerta buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “kekal”.
Kata asing culture yang berasal dari kata Latin colere (yaitu “mengolah”, “mengerjakan”, dan terutama berhubungan dengan pengolahan tanah atau bertani), memiliki makna yang sama dengan “kebudayaan”, yang kemudian berkembang menjadi “segala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan mengubah alam”.
2.2.2 Definisi Konseptual
2.2.2.1 Definisi Menurut Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
2.2.2.2 Definisi Menurut Sutan Takdir Alisyahbana
Sutan Takdir Alisyahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir sehingga menurutnya pola kebudayaan itu sangat luas. Sebab, semua laku dan perbuatan tercakup di dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir termasuk di dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.
2.2.2.3 Definisi Menurut Malinowski
Malinowski menyebutkan, bahwa kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas. Misalnya, guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya, maka timbul kebudayaan yang berupa perlindungan, yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu, seperti lembaga kemasyarakatan.
2.2.2.4 Definisi Menurut A. van Peursen
C.A. van Peursen mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan kehidupan setiap kelompok orang dapat berlainan dengan hewan. Maka, manusia tidak dapat hidup begitu saja di tengah alam. Oleh karena itu, untuk dapat hidup, manusia harus mengubah segala sesuatu yang telah disediakan oleh alam. Misalnya, beras agar dapat dimakan harus diubah dulu menjadi nasi.
Terwujudnya suatu kebudayaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, yaitu hal-hal yang menggerakkan manusia untuk menghasilkan kebudayaan sehingga dalam hal ini kebudayaan merupakan produk kekuatan jiwa manusia sebagai makhluk Tuhan yang tertinggi. Oleh karena itu, walaupun manusia memiliki tubuh yang lemah bila dibandingkan dengan binatang seperti gajah, harimau, dan kerbau, tetapi dengan akalnya manusia mampu untuk menciptakan alat (sebagai homofaber) sehingga akhirnya dapat menjadi penguasa dunia. Dengan kualitas badannya, manusia mampu menempatkan dirinya di seluruh dunia. Tidak seperti binatang, yang hanya dapat menempatkan diri di dalam lingkungannya. Oleh karena itu, manusia dikatakan sebagai insan budaya.
2.2.2.5 Definisi Menurut Koentjaraningrat
Menurut Koentjaraningrat kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar
2.2.3 Definisi Operasional
Kebudayaan adalah seluruh sistem, rasa, gagasan dan tindakan yang dimiliki oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kebudayaan, manusia berpikir dan bertindak guna mengatasi berbagai rintangan yang ada dalam hidup bermasyarakat.
| 2.2.4 Instrumen Variabel Kebudayaan | ||
| | | |
| Variabel | Dimensi | Indikator |
| | sistem | struktur |
| | | organisasi |
| | | |
| | Berpikir dan bertindak | perilaku |
| | | |
| | Hidup bermasyarakat | bersosialisasi |
2.3 DEFINISI MASYARAKAT
2.3.1 Definisi Etimologis
Masyarakat berasal dari kata dalam bahasa Arab, “musyarak”. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas -entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
2.3.2 Definisi Konseptual
2.3.2.1 Definisi Menurut Selo Sumardjan
Masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2.3.2.2 Definisi Menurut Karl Marx
Masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok -kelompok yang terbagi secara ekonomi.
2.3.2.3 Definisi Menurut Emile Durkheim
Masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi - pribadi yang merupakan anggotanya.
2.3.2.4 Definisi menurut Paul B. Horton & C. Hunt
Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.
2.3.2.5 Definisi Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani
Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
2.3.3 Definisi Operasional
Masyarakat adalah sekelompok orang atau kumpulan komunitas manusia yang menempati satu wilayah tertentu dengan merasa adanya keterikatan satu sama lain, juga adanya interaksi yang disesuaikan dengan adat istiadat wilayah tersebut yang sifatnya berkesinambungan; serta merupakan kesatuan hidup bersama yang memiliki kebiasaan tertentu, norma, hukum, serta aturan yang mengatur semua pola tingkah laku warga yang harus dipatuhi oleh seluruh anggotanya; tentunya membutuhkan keamanan dan kesejahteraan secara bersama.
| 2.3.4 Instrumen Variabel Masyarakat | | |
| | | |
| Variabel | Dimensi | Indikator |
| | Manusia | Akal Budi |
| | | Jasmani |
| | | Rohani |
| | | |
| M | Wilayah | Udara |
| | | Darat |
| A | | Laut |
| | | |
| S | Interaksi | Sosial |
| | | Budaya |
| Y | | |
| | Hidup | Dunia |
| A | | Akherat |
| | | |
| R | Norma | UUD |
| | | Pancasila |
| A | | |
| | Hukum | Adat |
| K | | Negara |
| | | |
| A | Aturan | Tertulis |
| | | Tidak tertulis |
| T | | |
| | Kesejahteraan | Individu |
| | | Kelompok |
| | | Sosial |
| | | Negara |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar