Sabtu, 10 Oktober 2009

Final Cultural






PLURALISME BUDAYA DAN TANTANGAN ARUS GLOBALISASI DI INDONESIA

Kata Pengantar

Jauh sebelum teknologi komunikasi berkembang, Globalisasi itu sudah terjadi dan dimulai ribuan tahun yang lampau. Bangsa yang dominan seperti kerajaan Romawi dengan semboyan Pax Romana-nya sudah mengekspor budayanya ke seluruh daerah jajahannya.

Maka untuk itu penulis memutuskan untuk membahas dan menganalisa fenomena globalisasi ini. Kesemuanya ini ditujukan untuk memenuhi tugas pengganti ujian Cultural Antrhopologhy.

Pertama-tama saya ingin berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa karena tanpa berkat yang diberikannya tugas ini tidak akan selesai tepat pada waktunya

Kedua saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu dosen yang sudah membimbing saya dan memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada saya, tanpa ibu tugas ini tidak akan pernah selesai dan tidak akan saya buat.

Ketiga saya juga ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman yang sudah mendukung saya dalam mengerjakan tugas ini baik dalah hal moril maupun dalam pengetahuan.

Jakarta 03 February 2009

Penyusun

Kegunaan Penelitian

Penulis menyadari manfaat-manfaat yang dipetik dari penyusunan laporan ini, walaupun banyak juga halangan-halangan yang muncul dalam menyelesaikan karya tulis ini. Manfaat yang paling utama, yaitu bagi penulis sendiri, yaitu :

a. Penulis dilatih untuk mengembangkan kemampuannya dalam menulis karya ilmiah.

b. Penulis dilatih untuk meningkatkan dan memperluas pengetahuannya dari berbagai sumber; buku , media massa cetak dan elektronik.

c. Penulis juga dilatih untuk mampu menganalisis fakta-fakta yang ada di lapangan dengan teori-teori yang sudah didapatkan.

d. Penulis juga dilatih untuk berani bersikap untuk menghadapi masyarakat secara langsung.

Manfaat yang lain adalah manfaat bagi pembaca dan pihak-pihak lain yang terkait :

a. Supaya para pembaca dapat mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan masalah globalisasi dan pluralisme budaya di Indonesia.

b. Supaya pembaca dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam globalisasi dan pluralisme budaya di Indonesia.

Latar Belakang Permasalahan

Mempelajari sejarah kebudayaan yang terdapat pada seluruh bangsa dan di seluruh dunia, ternyata bangsa hidup dengan cara – cara yang dibentuknya sendiri. Kalau dikatakan bahwa bangsa memiliki budaya sendiri, maka yang paling nyata membedakannya dari budaya orang lain ialah perbedaan cara cara tadi. Bentuk rumah, peralatan, pakaian, cara bertani, adat istiadat, dan lain lain merupakan hasil budaya yang diwariskan dari satu generaasi ke generasi berikutnya melalui semacam pendidikan.

Budaya tidak ada yang asli dalam arti tidak semua unsurnya selalu berasal dari dalam budaya itu sendiri. Budaya yang tidak terpengaruh oleh budaya lain akan terisolasi dan tidak bias berkembang dan pada akhirnya akan lenyap. Untuk berkembang, budaya memerlukan sentuhan dan pengaruh dari luar.

Pengaruh atau pengambilan unsur-unsur budaya dari luar sebenarnya bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa yang penerima. Ambil mengambil di biadng budaya ini sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu, contoh yang paling mudah yaitu penularan teknologi ( ditemukan roda pada abad 20 dengan cepat berpengaruh bagi Negara lain dalam memajukan transportasinya).

Globalisasi itu sudah terjadi bahkan sebelum kita menyadari akan hal tersebut. Pada laporan ini saya akan membahas mengenai bagaimana dampak globalisasi bagi pulralisme budaya di Indonesia.

Identifikasi Masalah

Apakah globalisasi itu sesuatu yang perlu ditakuti, dibendung, atau malah didukung? Jawabnya tergantung dari apa yang ingin kita masukkan melalui globalisasi itu. Apa yang dibawa oleh globalisasi itu macam-macam, ada yang baik dan ada yang tidak baik. Seperti kita tahu, saluran globalisasi itu bermacam macam dan sangat canggih. Ada yang merupakan alat elektronik, mass media cetak, film, rombongan kebudayaan, dan lain lain. Pakaian resmi yang diharuskan pemerintah untuk dipakai pada upacara resmi kenegaraan sebenarnya juga hasil globalisasi. Dr. T.B Simatupang mengatakan agar Indonesia dapat menjadi Negara nomor satu, maka Indonesia harus menjadi Negara yang modern. Menjadi modern tentunya ada kaitannya yang erat dengan gejala globalisasi.

Bangsa Indonesia dengan filsafat Pancasilanya pasti dapat menyaring apa-apa saja yang perlu masuk melalui globalisasi. Malah dengan adanya kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk melihat dan mengikuti peristiwa peristiwa di luar negeri, maka mereka mempunyai bahan perbandingan. Pendidikan juga merupakan proses globalisasi yang sedang kita galakkan sekarang ini.

Indonesia juga merupakan anggota masyarakat internasional, maka itu Indonesia juga harus mengadopsi atau melakukan kebiasaan kebiasaan yang berlaku dalam tata pergaulan dunia yang beradab. Namun tetap harus dijaga agar harga diri yang biasa kita kaitkan dengan identitas jangan sampai lenyap.

Ingatlah ciri ciri kebudayaan yang mengatakan bahwa kebudayaan bukan merupakan suatu hal yang tetap, melainkan suatu hal yang statis. Maka dari itu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang ini, tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian unsure unsure kebudayaan yang harus ditinggalkan di belakang dan digantikan dengan yang baru.

Kreasi baru ditampilkan atau dieksperimenkan dengan memakai akar dari budaya lama yang dipadu dengan pengungkapan jiwa dan nilai nilai baru yang sesuai dengan perubahan yang terjadi. Dalam hal ini globalisasi lokal pun dapat terjadi, dampaknya sangat besar dalam membina kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Arus dan akibat globalisasi yang berasal dari luar Indonesia terhadap budaya Indonesia dan juga yang berasal dari dalam budaya Indonesia terhadap budaya etnis tidak selalu memberikan dampak negatif. Pasti dari nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, cara berpikir, cara bekerja, cara hidup, bahkan pandangan hidup kita yang tradisional dan etnis itu ada yang harus kita tinggalkan.

Kesimpulan dan Saran

Dengan masih berfungsinya budaya-budaya etnis , bahkan, sekarang ini ada gejala menghidupkan dan mengembangkan apa saja yang berbau etnis, maka arus globalisasi itu pun akan ternetralisasi juga. Jadi, tidak akan ada kemungkinan punahnya budaya-budaya etnis, apalagi yang terpelihara baik oleh para pendukungnya. Di samping tercantum sebagai semacam tekad dalam lambang kebangsaan kita Bhinneka Tunggal Ika, orang-orang Indonesia tidak akan ingin meninggalkan keetnisannya sebagai identitas diri.

Dalam wilayah Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, yang asas satu-satunya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus tercipta masyarakat Pancasila. Jadi budaya yang harus dikembangkan di Indonesia adalah budaya Pancasila. Setiap orang harus merasa turut memiliki, turut mempunyai hak dan kewajiban membangun bangsanya sebagai pengamalan Pancasila.

Tentang pluralisme budaya di Indonesia, baiknya hal itu kita artikan sebagai kekayaan budaya nasional. Untuk menghadapi masa depan Indonesia dan untuk mempersiapkan diri kita sebagai masyarakat kita memerlukan unsur-unsur budaya yang lebih rasional daripada emosional dan premordialisme. Keetnisan janganlah ditonjol-tonjolkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar